TRILOGI NUSA PUTRA SEBAGAI NILAI KEHIDUPAN MAHASISWA
Pengalaman Trilogi Nusa Putra Sebagai Nilai Kehidupan Mahasiswa
Perkenalkan nama saya Saefi Hilman. Saya saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Sistem Informasi di Universitas Nusa Putra. Tahun Kedua Setelah lulus SMK saya mendaftar kuliah di Universitas Nusa Putra dan mengambil jurusan Sistem Informasi. Setelah beberapa tes saya di nyatakan Lulus di jurusan Sistem Informasi. Syukur alhamdulillah saya bisa kuliah ditahun 2024 berkat doa dan dukungan dari orang tua dan keluarga.
Di awal masa perkuliahan, terdapat kegiatan pengenalan yang disebut MABIM (Masa Bimbingan Mahasiswa). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai kehidupan sebagai mahasiswa dan bagaimana menjalani perkuliahan dengan baik.
Dari kegiatan MABIM, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai Universisat Nusa Puta. Salah satu hal penting yang saya pelajari adalah bahwa Universitas Nusa Putra memiliki nilai-nilai luhur sekaligus juga merupakan manifesto dalam perjuangannya meraih visi misi. Nilai-nilai itu disebut dengan Trilogi Nusa Putra yang harus dijungjung tinggi dan menjadi bagian dalam kehidupan seluruh insan Nusa Putra. dikutip dari https://nusaputra.ac.id/id/tentang/nilai-nilai-luhur/
Trilogi Nusa Putra
- Amor Deus Cinta Kasih Tuhan
- Amor Parentium Cinta Kasih Orang Tua
- Amor Concervis Cinta Kasih Sesama
Amor Deus
Cinta Kasih Tuhan
Sebagai anugerah cahaya insan Nusa Putra untuk tetap menjalankan syariat agama, beragama merupakan kebutuhan dan cinta kita kepada Tuhan, bukan lagi sebagai kewajiban.
Kuliah di Universitas Nusa Putra jadi pengalaman baru yang cukup menantang buat saya. Rumah saya cukup jauh perjalanan 1 jam, jadi setiap hari harus berangkat pagi dan pulang sore atau malam. Menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Ditambah lagi dengan tugas-tugas yang terus berdatangan, kadang bikin saya capek dan stres sendiri.
Tapi di tengah kesibukan itu, saya mulai sadar pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan. Saya merasa kalau saya hanya fokus ke tugas dan aktivitas, hati jadi cepat lelah. Akhirnya saya belajar untuk tetap menyempatkan waktu buat beribadah, walau cuma sebentar. Dari situ saya merasa lebih tenang dan lebih kuat menjalani hari.
Saya juga makin paham bahwa cinta kasih Tuhan itu luas. Dia selalu ada, bahkan saat saya lagi capek, bingung, atau merasa sendirian. Itu yang bikin saya terus semangat kuliah, karena saya percaya ada kekuatan yang selalu jaga dan tuntun saya dari jauh.
Amor Parentium
Cinta Kasih Orang Tua
Sebagai kekuatan insan Nusa Putra untuk menjaga ajaran dan nilai-nilai luhur rasul, leluhur, kedua orang tua dan guru-guru kita serta orang orang soleh sebelum kita.
Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Meski orang tua saya juga membiayai dua kakak saya kuliah, mereka tetap berjuang keras agar saya bisa kuliah di Universitas Nusa Putra. Mereka selalu mendukung saya, bahkan rela mengesampingkan kebutuhan sendiri demi pendidikan saya.
Selama menjalani perkuliahan, saya semakin merasakan arti dari Amor Parentium cinta kasih orang tua. Setiap langkah yang saya ambil di kampus adalah wujud dari doa dan pengorbanan mereka. Karena itu, saya bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh, bukan hanya demi masa depan saya, tapi juga sebagai bentuk rasa terima kasih atas cinta mereka yang tulus.
Amor Concervis
Cinta Kasih Sesama
Sebagai pengikat insan Nusa Putra untuk menjalani hidup berdampingan secara damai dalam menyikapi setiap perbedaan, karena Tuhan berkehendak atas adanya perbedaan itu sendiri.
Sebagai mahasiswa Universitas Nusa Putra, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan PKM (Pengabdian kepada Masyarakat) yang diadakan oleh Himpunan. Dalam kegiatan ini, saya dipercaya menjadi koordinator lapangan bersama teman-teman kelompok. Kami mengadakan seminar dan talkshow di SMA Islam Nurul Karomah, dengan tema “Memperkenalkan UI/UX (User Interface dan User Experience) sebagai langkah awal untuk menciptakan pengalaman digital yang kreatif.”
Selama kegiatan berlangsung, saya benar-benar merasakan makna dari Amor Concervis cinta kasih sesama. Saya belajar bagaimana menyatukan ide dalam kelompok, membagi peran, dan berkomunikasi dengan pihak sekolah secara baik. Kami semua berasal dari latar belakang yang berbeda, punya cara berpikir yang tidak selalu sama, tapi justru dari perbedaan itu kami bisa saling melengkapi.
Saat berbagi ilmu tentang UI/UX kepada para siswa, saya dan kelompok merasa senang bisa memberi sesuatu yang bermanfaat. Mereka antusias, banyak yang bertanya, dan itu membuat saya sadar bahwa pengabdian itu bukan tentang siapa yang lebih pintar, tapi siapa yang mau berbagi.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kerja sama, empati, dan saling menghargai adalah kunci. Nilai Amor Concervis benar-benar terasa, bukan hanya dalam hubungan sesama mahasiswa, tapi juga antara kami dengan masyarakat. Saya belajar bahwa damai dalam keberagaman bukan sekadar kata-kata, tapi bisa diwujudkan lewat aksi nyata, seperti kegiatan PKM ini.


Komentar
Posting Komentar